Mengapa Saya Tidak Pernah Bosan Mengajar Sejak kecil, saya tumbuh tanpa kehadiran penuh seorang bapak. Orang tua saya bercerai ketika usia saya masih sangat muda. Pertemuan pertama saya dengan bapak baru terjadi pada usia--kirakira--tiga tahun. Setelah itu, ketika saya duduk di bangku SD, kami hanya bertemu sesekali—biasanya di masa liburan. Perjumpaan yang jarang itu tidak cukup untuk membangun kedekatan. Namun ada kesan yang tersimpan. Saat saya mulai remaja—di bangku SMK hingga kuliah—saya baru lebih banyak berinteraksi dengannya. Dari situ saya mengamati sesuatu: cara berpikirnya yang logis, kecenderungan melatih, dan sikap membimbing yang muncul alami. Walaupun saya tidak dibesarkan olehnya, saya merasakan ada garis halus yang tetap menghubungkan kami. Seolah-olah sifat itu hidup dalam diri saya tanpa pernah diminta. Sementara itu, keseharian saya sejak kecil sepenuhnya ditempa oleh ibu. Beliau seorang juru penerangan di Departemen Penerangan . Dari ibu saya belajar satu hal y...
Comments
Post a Comment